Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Personal Experience : Perjalananku Dalam Berusaha Memutihkan Kulit

HAAIIII SEMUAA....

Postingan pertama di bulan Agustus ini sedikit berbeda dari sebelumnya, alasannya ialah saya kali ini tidak mereview sebuah produk melainkan sharing pengalamanku dalam memutihkan kulit. Bukan, ini bukan DIY atau beauty hack ihwal cara bagaimana kulitku menjadi putih permanen, tetapi lebih ke arah sharing perjalananku selama ini dalam memutihkan kulitku. Interested? Then keep on reading!.




Oke, pertama you must know jika saya ialah keturunan jawa dengan kulit sawo matang, alias cokelat. Meskipun ibuku mempunyai kulit kuning langsat tapi bapakku mempunyai kulit cokelat renta sehingga menghasilkan anaknya kulit cokelat sedang. Kaprikornus seumur hidupku saya tidak pernah mempunyai kulit putih ataupun kuning langsat, saya selalu melihat warna kulit cokelat yang sama.

Sebenarnya saya tidak tahu semenjak kapan saya ingin memutihkan kulit, tapi masa kanak-kanak dan sekolah saya selalu menyukai manga dan anime, sehingga saya selalu suka melihat karakternya yang berkulit cerah. Saat disekolah saya hirau taacuh dengan penampilan sehingga wajah dan kulitku terlihat tambah kusam dan gelap, apalagi dengan selera fashionku yang cupu bahkan untuk seusiaku, yah dapat dibilang saya nerd dan gak gaul di sekolah haha. Banyak sobat sekelas semenjak Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah kejuruan mengkritisi kulitku yang gelap, apalagi dengan cewek-cewek yang suka merawat diri. Aku ingat dulu pada waktu upacara Sekolah Menengah kejuruan saya bersebelahan dengan anak sekelasku yang memang suka makeup dan perawatan, ia bilang "Aku seneng jika berjejer disampingmu, alasannya ialah kulitku terlihat jauh lebih putih." Belum cukup, ia menjejerkan tanganku dengan tangannya dan berkata lagi "Duhhh kulitmu kok dapat sih gosong banget kayak gitu?" Aku yang cupu dulu tak dapat menjawab, tapi tetep aja komennya membekas hingga sekarang.

Akhirnya sampailah kelas 2 Sekolah Menengah kejuruan saya mulai mengerti pentingnya merawat tubuhku, dan berusaha memotivasi diriku jika saya nggak jelek-jelek amat jika dirawat :p. Akhirnya  saya meminta krim malam dan pagi punya ibuku brand Tje Fuk, hasilnya kelihatan sih, tapi teksturnya terlalu think dan jika keringetan jadi pektay gitu. Suatu hari ibuku memberiku produk Dempo Snow, gambarnya seperi ini :


Courtesy : google

Dulu saya tidak tahu apapun ihwal skincare jadi saya hajar aja pake produk ini sampe habis 2 tab. Perubahannya pesat loh, kulitku jadi jauh lebih putih dan bersinar, tapi ngga hingga licin dan glowing kayak krim pemutih geje. Teman-teman sekelas mengetahui perubahanku dan entah perlakuan mereka padaku jadi lebih baik, semenjak itu saya tahu jika penampilan dapat kuat dengan perlakuan seseorang. 

Sampai alhasil saya tidak dibelikan krim Dempo lagi sama ibuku alasannya ialah penjualnya pindah (ceritanya yang jual temennya ibuku sendiri), sehingga berangsur-angsur kulitku kembali menyerupai semula, hingga kini saya tidak tahu brand Dempo ini abal atau ngga. Dan tentu, temen-temen sekelas mulai bercanda "Si *namaku* kok jadi item lagi ya? Padahal dulu udah putih loh," "Yah mungkin kebanyakan berjemur dipantai jadi gosong hahaha."  Setelah itu mereka mulai nggak peduli sama saya menyerupai sebelum saya pake krim.

Lanjut, kali ini perjalananku dikala lulus dan mulai bekerja. Entah pressurenya semakin kuat atau saya yang sudah nggak tahan sehingga saya tetapkan untuk terobsesi tampak lebih putih. Saat taun 2014 booming makeup Korea macam Etude, Innisfree, Tony Moly, dkk. Aku membeli BB Cream Etude House yang ini :


courtesy google

Aku pilih shade Honey Beige, dan hasilnya... masih kelihatan putih banget di mukaku, dengan culunnya saya ke kantor pake bb cream doang dan dibilang terlalu tebel bedaknya, mungkin alasannya ialah saya ga pake alis, lipstick, dll menyerupai kini jadi keliatan pucet banget hahaha. Setelah itu saya mulai pakai alis dan hasilnya nayyy banget, tapi dulu pede banget meskipun diketawain orang kantor, pokoknya taun 2014-2015 itu saya belajaran pake makeup Korea, jika diinget-inget norak banget hasilnya wkwkwk.

Pada tahun 2015 saya juga mulai mengenal cosplay dan terjun di dalamnya, disitulah saya lagi-lagi dihadapkan pada kenyataan jika kulit putih lebih preferable daripada kuilt gelap. Tahu sendiri kan fans anime itu kebanyakan pria cukup umur dengan ekspektasi tinggi bagi para cosplayer anime favoritnya, sehingga jika cosplayer tersebut kulitnya ga putih niscaya ga di notice menyerupai aku. Gara-gara itu juga stigmaku ihwal kulit putih is the best terus menumpuk . Aku sempat ngedown dan benci dengan warna kulitku sendiri, jika lihat cewek-cewek lain yang mulus dan kulitnya putih itu iri banget, apalagi jika pas event cosplay banyak yang memuji dan minta foto.

Akhirnya saya beralih ke perawatan sabun pemutih  dan kapsul pemutih. Dulu taun 2015-2016 booming produk-produk sabun, lotion, bahkan kapsul pemutih dari Thailand, saya dulu pertama menggunakan :

courtesy : google

Yap, Gluta Pure Soap ini sempet ngehits dan menjadi aktivis produk sabun pemutih lain, bahkan ada beberapa blogger yang mereview. Aku mencobanya dan hasilnya badanku malah gatal-gatal dan ada bentol-bentol merah gede, pertama sih maksa, tpi alhasil saya nyerah dan menyimpulkan sabun ini gak cocok buat aku. Kemudian saya beralih ke Gluta Lapunzel, penampakannya menyerupai ini :


courtesy google 

Pemakaiannya 1x sehari dan satu box cukup untuk sebulan, harganya dulu mayan mahal sekitar 200rb an, tapi lagi-lagi hasilnya ga menyerupai yang saya harapkan, badanku kembali bentol-bentol merah dan gateell bangettt, alhasil saya ga lanjut, malah yang ada kulitku jadi banyak bekas bentol yang susah hilang, hiks.

Terakhir saya pakai brand Thailand ialah pada postinganku yang ini, yaitu sabun Jelly's Pure Soap :



Packagingnya gemesh banget, dan ini faktor utama saya khilaf make huehehe. Tapi tetep aja saya alergi dan saya tetapkan jika sebenernya ak ga cocok pakai sabun yang ada Glutathionenya, alhasil saya tidak menggunakan produk pemutih Thailand lagi.

Nah sesudah itu saya entah melihat vlogger-vlogger menyerupai Rachel Goddard dan Suhay Salim ditambah dengan vlogger luar negeri, dari mereka saya tersadar bagus itu ga harus putih gitu loh. Malah jika pakai makeup nih vlogger-vlogger terlihat lebih glowing dan eksotis daripada vlogger berkulit putih. Setelah melalui proses batin yang panjang, alhasil saya made a peace with myself, saya ngga membenci kulit cokelatku lagi, bahkan saya justru embrace it, I'm a Javanese with brown skin and it's ok.

Setelah rangkaian-rangkaian perawatan pemutih itu bersama-sama ada hasilnya sih, kulitku ngga gelap banget kayak dulu, justru malah jadi cokelat muda, tapi dengan bentol-bentol merah diatasnya huhu. Akhirnya saya mulai ke klinik kecantikan untuk facial dan pakai krim klinik (untuk bahasan wajah ini lain postingan ya) sedangkan untuk tubuh saya rajin luluran dan menggunakan jaket, hand body, sarung tangan, serta kaos kaki jika keluar rumah, sesudah itu saya juga mulai rajin merawat wajah dengan rangkaian skincare dan sunblok, hasilnya tentu saya ngga jadi putih, tapi at least saya ngga gosong kena panas.

Yah beginilah sharingku soal pengalaman memutihkan kulit, saya ngga pernah mencoba pakai DIY masker atau bikin beauty hack soalnya saya udah kapok sama hal yang tidak niscaya (cielah) mending saya pakai metode kondusif meski hasilnya lama,  kulitku yang bentol-bentol bekasnya juga mulai sembuh. So I'm actually content with myself.

Saranku buat kalian yang mempunyai kulit cokelat atau gelap sepertiku janganlah murung dan rendah diri, bersyukurlah dengan apa yang Tuhan berikan, lebih baik fokus ke mencerahkan bukan memutihkan, alasannya ialah cerah itu niscaya terlihat segar dan menarik apapun warna kulitnya, sekeras apapun kita yang berkulit gelap tak akan dapat menjadi seputih cewek Korea kecuali jika kita suntik putih atau skin bleaching. 

Thanks udah baca postinganku yang abal ini, maaf jika isinya ngga sesuai ekspektasi pas lihat judulnya. See you on the next post